Senin, 09 Desember 2013

Festival Ketoprak DIY 2013 Menyasar Kaum Muda

Dalam festival ini masing-masing peserta diwajibkan menggunakan iringan gending klasik Yogyakarta dengan unsur-unsur konvensional seperti playo, dan keprak yang bisa “murba” (memberikan aba-aba/mengelola adegan). Selain itu semua pemain tidak boleh berusia di atas 40 tahun.
Kontingen Kulon Progo dengan Lakon Sulastri sebagai penyaji terakhir dalam Festival Ketoprak DIY 2013 di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, difoto:  Sabtu malam, 23 November 2013, foto: a.sartono
Kontingen Kulon Progo dengan Lakon Sulastri sebagai penyaji terakhir
dalam Festival Ketoprak DIY 2013
Festival Ketoprak Antarkabupaten dan kota di Yogyakarta Tahun 2013 berakhir 23 November 2013. Festival yang dilangsungkan di Gedung Concert Hall Taman Budaya ini dimulai sejak Rabu, 20 November 2013. Pada hari pertama festival ditampilkan kontingen dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Masing-masing dengan lakon “Tumenggung Mayang” dan “Tembang Tlutur ing Ereng-ereng Gunung Keling”.
Pada Kamis, 21 November 2013 ditampilkan kontingen dari Kabupaten Bantul dengan lakon “Nalika Rendheng Tanpa Banyu” dan Kabupaten Gunung Kidul dengan lakon “Aji Guramandala”. Pada hari terakhir festival, Jumat 22 November 2013 ditampilkan kontingen dari Kabupaten Kulon Progo dengan lakon “Sulastri” dan ketoprak eksibisi dari SMK Petrus Kanisius Klaten dengan lakon “Sabaya Mukti Sabaya Mati”. Perlu diketahui juga bahwa penampil eksibisi dari SMK Petrus Kanisius merupakan pemenang I dalam Festivak Ketoprak Pelajar se Kabupaten Klaten.
Ada pun yang bertindak sebagai juri dalam festival tersebut adalah Ignatius Wahono, Indra Tranggono, Murjono, Marsidah BSc, dan Prof Dr Suminto A Sayuti. Sedangkan narasumber dari festival ini adalah RM Altiyanto Henryawan dan Bondan Nusantara.
Kontingen dari SMK Petrus Kanisius Klaten ikut memeriahkan Festival Ketoprak DIY 2013, Sabtu malam, 23 November 2013, foto: a.sartono
Kontingen dari SMK Petrus Kanisius Klaten ikut memeriahkan Festival Ketoprak DIY 2013
Dalam Festival Ketoprak Yogyakarta Tahun 2013 ini masing-masing peserta diwajibkan menggunakan iringan gending klasik Yogyakarta dengan unsur-unsur konvensional seperti playo, dan keprak yang bisa “murba” (memberikan aba-aba/mengelola adegan). Selain itu semua pemain tidak boleh berusia di atas 40 tahun. Boleh menggunakan pemain berusia di atas 40 tahun namun tidak lebih dari 3 orang. Durasi pementasan adalah 75-90 menit. Sedangkan tema lakon bebas. Tepuk tangan hanya diperkenankan setelah selesai pentas.
Anggota dewan juri Prof Dr Suminto A Sayuti mengatakan bahwa masa depan ketoprak ada di tangan generasi muda, sehingga pelibatan generasi muda dalam kegiatan ini menjadi wajib. Ia berharap dengan kegiatan itu generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Capaian estetik rata-rata dari semua kontingen masih relatif standar. Namun persoalan ini hendaknya dipandang sebagai bentuk silaturahmi budaya. Persoalan menang dan kalah dalam lomba adalah persoalan biasa dan memang harus demikian.
Kabupaten Bantul sebagai Penyaji Terbaik dalam Festival Ketoprak DIY tengah menerima piala bergilir, difoto: Sabtu malam, 23 November 2013, foto: a.sartono
Kabupaten Bantul sebagai Penyaji Terbaik
dalam Festival Ketoprak DIY menerima piala bergilir
Namun juri juga menyampaikan bahwa semua kontingen ketoprak dari masing-masing kabupaten dan kota sudah menjadi kontingen yang layak untuk ditonton atau dinikmati pementasannya. Masing-masing kontingen juga sudah bisa menjadi dirinya sendiri, yang menjadi unsur pembeda (ciri) dengan kontingen lain. Embrio-embrio perketoprakan yang terbentuk tinggal mengembangkan lebih lanjut.
Keluar sebagai penyaji terbaik sekaligus juara umum dalam festival ini adalah kontingen Kabupaten Bantul dengan capaian nilai 2.400. Penyaji terbaik II adalah Kabupaten Gunung Kidul dengan nilai 2.360. Penyaji terbaik III adalah Kabupaten Sleman dengan nilai 2.325. Penyaji terbaik IV adalah Kota Yogyakarta dengan nilai 2200. Sementara Kulon Progo menjadi POenyaji Terbaik V dengan nilai 2.100.
Selain itu terpilih juga sutradara terbaik dalam festival tersebut adalah Henrianto (Bantul), penata panggung terbaik atas nama Yunanto (Kulon Progo), penata iringan terbaik adalah Dandun Hadi (Bantul), penata busana terbaik adalah Sri Budiati (Sleman), Pemeran utama pria terbaik adalah Budisriawan (Gunung Kidul) yang memerankan tokoh Rogojoyo. Pemeran utama wanita terbaik adalah Puji Arianti (Bantul) yang memerankan tokoh Kedasih. Pemeran pembantu pria terbaik adalah Nuryanto (Bantul) yang memerankan tokoh Pragola. Sedangkan pemeran pembantu wanita terbaik adalah Wahyu Indriani (Gunung Kidul) yang memerankan tokoh Sekar Arum.
Para penerima hadiah dalam Festival Ketoprak DIY 2013 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, difoto: Sabtu malam, 23 November 2013, foto: a.sartono
Para penerima hadiah dalam Festival Ketoprak DIY 2013
Naskah & foto: A. Sartono


Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website http://www.tembi.net - Rumah Sejarah dan Budaya

0 komentar:

Posting Komentar